Rabu, 23 Oktober 2013



KORESPONDENSI BUNYI BAHASA JAWA
DAN BAHASA OSING
Riska Astasari/201110080311127

Aspek bahasa yang tepat dijadikan objek perbandingan adalah bentuk dan makna. Kesamaan-kesamaan bentuk dan makna itu akan lebih meyakinkan, karena bantuk-bentuk tersebut memperlihatkan kesamaan semantik. Bahasa Jawa dan bahasa Osing memiliki kemiripan pada beberapa kosa kata. Kata ada dalam bahasa Jawa adalah ana sedangkan dalam bahasa Osing adalah onok. Meneliti tentang korespondensi bunyi tidak hanya terhenti pada korespondensinya saja. Perlu pengujian lebih lanjut dengan cara menguji pembentukan korespondensi fonemis. Pembentukan korespondensi fonemis dapat dilakukan dengan tiga prosedur, yaitu rekurensi fonemis, kookurensi, dan analogi.

Kata kunci     : Korespondensi Bunyi, Bahasa Jawa, Bahasa Osing


1.      PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Bahasa berperan penting dalam kehidupan manusia. Dalam berbagai bidang kehidupan, manusia tak lepas dari bahasa. Simbol-simbol bunyi dalam bahasa menjadikan kesepahaman antarmasyarakat bahasa. Simbol-simbol bunyi bahasa bersifat arbitrer namun menjadi konvensi antar masyarakat. Sebagaimana lazimnya sebuah produk budaya, bahasa juga mengalami perubahan dan perkembangan dari masa ke masa seiring perkembangan masyarakat penuturnya. Bahasa mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Salah satu cabang ilmu bahasa yang menyelidiki perkembangan bahasa adalah linguistik komparatif. Kridalaksana (2008: 145) mengatakan bahwa linguistik historis komparatif adalah bidang linguistik yang menyelidiki perkembangan bahasa dari satu masa ke masa yang lain, serta menyelidiki perbandingan satu bahasa dengan bahasa lain. Prosedur pengkajian metode komparatif yaitu mengkaji bunyi-bunyi di suatu tempat tertentu di satu daerah tentang satu morfem (Jeffers dan Lehiste, 1979: 31)
Bahasa dianggap berkerabat dengan kelompok bahasa tertentu apabila secara relatif memperlihatkan kesamaan yang besar bila dibandingkan kelompok-kelompok lainnya. Perubahan fonemis dalam sejarah bahasa-bahasa tertentu memperlihatkan pula sifat yang teratur. Semakin dalam kita menelusuri sejarah bahasa-bahasa kerabat, maka akan semakin banyak didapat kesamaan antar pokok-pokok bahasa yang dibandingkan.
Perbandingan bahasa dapat dilkukan melalui beberapa metode. Salah satunya adalah menggunakan korespondensi bunyi. Korespondensi bunyi adalah pernyataan di dalam linguistik historis komparatif yang menjelaskan perubahan-perubahan teratur dalam sistem bunyi suatu bahasa dari satu masa ke masa lain dalam perkembangan sejarahnya, atau yang menjelaskan rangkaian kesepadanan antara unsur-unsur dalam bahasa yang berbeda-beda (Kridalaksana, 2008: 87).
Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya. Salah satunya adalah bahasa. Jumlah bahasa di Indonesia sangat banyak. Tiap daerah memiliki bahasa tersendiri. Salah satunya di daerah Banyuwangi. Banyuwangi merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur. Di Banyuwangi terdapat suku Osing, yaitu suku asli Banyuwangi. Suku tersebut memiliki bahasa tersendiri yaitu bahasa Osing. Walaupun sebagian besar masyarakat Banyuwangi menggunakan bahasa Jawa dalam berkomunikasi, namun bahasa Osing juga menjadi bahasa yang digunakan oleh sebagian masyarakat Banyuwangi. Antara bahasa Osing dan bahasa Jawa terdapat beberapa kesamaan kosa kata. Kesamaan tersebut antara lain pada bentuk dan makna, fonem dan morfem serta kelas kata.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik untuk meneliti tentang bahasa Jawa dan bahasa Osing berdasarkan hukum bunyi. Penelitian ini diharapakan dapat memberikan pemahaman tentang korepondensi bunyi antara bahasa Jawa dan bahasa Osing.

1.2  Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
a.       Bagaimana penerapan korespondensi bunyi antara bahasa Jawa dan Bahasa Osing?
b.      Bagaimana perubahan fonem pada bahasa Jawa dan bahasa Osing?
c.       Bagaimana pembentukan korespondensi fonemis pada bahasa Jawa dan bahasa Osing?

1.3  Tujuan
Tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
a.       Mengetahui dan memahami penerapan korespondensi bunyi antara bahasa Jawa dan bahasa Osing.
b.      Mengetahui dan memahami tentang perubahan fonem antara bahasa Jawa dan bahasa Osing.
c.       Mengetahui dan memahami tentang korespondensi fonemis antara bahasa Jawa dan bahasa Osing.

1.4  Manfaat
Adapun manfaat dalam penelitian ini sebagai berikut.
a.       Memperoleh pengetahuan tentan korespondensi bunyi pada bahasa Jawa dan bahasa Osing.
b.      Melestarikan kebudayaan khususnya bahasa Jawa dan bahasa Osing.

2.      PEMBAHASAN
2.1  Penerapan Korespondensi Bunyi Bahasa Jawa dan Bahasa Osing
            Dalam artikel ini akan dibahas mengenai korespondensi bunyi antara bahasa Jawa dan bahasa Osing. Tahap awal untuk menganalisis adanya korespondensi bunyi antara kedua bahasa tersebut dengan cara mengumpulkan kosakata dari kedua bahasa tersebut yang memilki kemiripan baik makna maupun bentuk. Tahap selanjutnya adalah membandingkan pasangan-pasangan kata yang tercatat apakah pasangan-pasangan kata tersebut mengandung kesamaan bentuk (fonologis) dan makna atau tidak. Dengan demikian dapat diketahui antara kedua bahasa tersebut memiliki kekerabatan atau tidak.



2.2  Korespondensi Bunyi Bahasa Jawa dan Bahasa Osing
            Bahasa Jawa dan Bahasa Osing memilki kemiripan pada beberapa kosakatanya. Beberapa di antara kosakata tersebut memiliki kesamaan makna dan perbedaan bunyi (bentuk). Berikut beberapa kosa kata bahasa Jawa dan Osing yang digunakan sebagai perbandingan bunyi.
Gloss
Jawa
Osing
ada
ana
onok
akar
oyot
odod
amuk
amuk
imuk
bambu
dəling
jajang
cari
golek
golet
habis
əntek
ənteng
hitam
irəŋ
cəməŋ
kakak
mbak
mbok
masih
isih
magih
meja
meja
mijo
            Berdasarkan data tersebut dapat ditarik beberapa korespondensi fonemis sebagai berikut /a – o/ yaitu perangkat vokal awal yang terdapat pada gloss pertama. Pada gloss kedua dapat ditarik korespondensi dari vokal pertama /o – o/. Korespondensi fonemis gloss ketiga /a – i/, yaitu perangkat vokal awal. Korespondensi fonemis gloss keempat adalah /d – j/, yaitu perangkat konsonan awal. Korespondensi fonemis gloss kelima adalah /g – g/. Korespondensi fonemis gloss keenam adalah /e – e/. Selain itu, terdapat perangkat korespondensi yang lain yaitu /i – c/ pada gloss ketujuh. Perangkat korespondensi fonemis gloss kedelapan adalah /m – m/. Dari data-data tersebut diperoleh perangkat korespondensi berikut.
/a         -o/                    /o         - o/                   /a         -i/        
/n         -n/                    /y         - d/                   /m        -m/
/a         -o/                    /o         - o/                   /u         -u/
        -k/                    /t          - d/                   /k         -k/

/d         -j/                     /g         - g/                   /e         - e/
/e         -a/                    /o         - o/                   /n         - n/
/l          -j/                     /l          - l/                    /t          - t/
/i          -a/                    /e         - e/                   /e         - e/
         -ŋ/                    /k         - t/                    /k         - ŋ/
2.3  Pembentukan Korespondensi Fonemis Bahasa Jawa dan Bahasa Osing
            Setelah mencatat korespondensi bunyi, maka perlu dilakukan pengujian dengan tujuan agar perangkat korespondensi itu mendapat status yang kuat. Berikut langkah pengujian yang dilakukan
a.       Rekurensi Fonemis
      Prosedur untuk menemukan perangkat bunyi yang muncul secara berulang-ulang dalam sejumlah pasang kata yang lain disebut rekurensi fonemis (Keraf, 1984: 52). Berikut rekurensi fonemis antara bahasa Jawa dan Osing.
Gloss
Jawa
Osing
ada
ana
onok
akar
oyot
odod
amuk
amuk
imuk
bambu
dəliŋ
jajaŋ
cari
golek
golet
habis
entek
enteŋ
hitam
irəŋ
cəməŋ
kakak
mbak
mbok
masih
isih
magih
meja
meja
mijo
      Kata hitam, dalam bahasa Jawa; ireng, sedangkan dalam bahasa Osing; cemeng. Dalam pasangan ini terdapat indikasi adanya perangkat korespondensi fonemis: /Ɵ – c/, /i – e/, /r – m/, /e – e/, /ŋ–ŋ/. Berdasarkan data, kita dapat menemukan kembali perangkat korespondensi /e – e/ dan /ŋ – ŋ/ dalam kata-kata berikut.
Gloss
Jawa
Osing
bambu
dəliŋ
jajaŋ
habis
əntek
ənteŋ
      Kata bambu, dalam bahasa Jawa: deling, Osing: jajang, berkorespondesi fonemis dengan kata ireng (dalam bahasa Jawa) dan cemeng (dalam bahasa Osing). Korespondensi fonemis pasangan ireng dan cemeng dapat ditemukan kembali pada pasangan kata deling dan jajang seperti berikut, /d – j/, /e – a/, /l – j/, /i – a/, /ŋ – ŋ/. Perangkat korespondensi /ŋ – ŋ/ yang dimiliki pasangan kata ireng dan cemeng inilah yang ditemukan kembali pada pasangan kata deling dan jajang.
      Perangkat korespondensi /e – e/ pada pasangan kata ireng dan cemeng dapat ditemukan kembali pada pasangan kata entek dan enteng, seperti berikut /e – e/, /n – n/, /t – t/, /e – e/, /k – ŋ/. Perangkat korespondensi yang dimiliki oleh pasangan ireng dan cemeng ditemukan kembali pada perangkat vokal awal pasangan kata entek dan enteng yaitu /e – e/.
b.      Kookurensi
      Kookurensi adalah gejala-gejala tambahan yang terjadi sedemikian rupa pada kata-kata kerabat yang mirip bentuk dan maknanya, sehingga dapat mengaburkan baik kemiripan bentuk maknanya maupun korespondensi fonemisnya dengan kata-kata lain dalam bahasa kerabat lainnya (Keraf, 1984:55). Gloss pertama adalah ada, dalam bahasa Jawa: ana sedangkan dalam bahasa Osing: onok. Dalam kasus tersebut fonem /a/ pada kata ana berubah menjadi fonem /o/ pada kata onok. Selain itu, dalam kosakata bahasa Osing mendapat penambahan fonem /k/ pada akhir kata. Selain itu, pada gloss kakak (perempuan), dalam bahasa Jawa adalah mbak, sedangkan dalam bahasa Osing adalah mbok. Fonem /a/ pada kata mbak juga mengalami perubahan menjadi fonem /o/ pada kata mbok. Fonem /k/ pada kata golek berubah menjadi /t/ pada kata golet. Perubahan fonem lain juga terjadi pada gloss keenam, fonem /k/ pada kata entek berubah menjadi /ŋ/ pada kata enteng.
c.       Analogi
      Berdasarkan data di atas terdapat beberapa perubahan fonem maupun penambahan fonem. Fonem /a/ dalam bahasa Jawa bisa berubah menjadi fonem /o/ dalam bahasa Osing. Hal tersebut mimicu terbentuknya korespondensi /a – o/. Selain itu pada pasangan kata golek (bahasa Jawa) dan golet (bahasa Osing), fonem /k/ berubah menjadi fonem /t/. Pasangan kata entek (bahasa Jawa) dan enteng (bahasa Osing), fonem /k/ berubah menjadi fonem /ŋ/.
Berikut adalah temuan korespondensi fonemins antara bahasa Jawa dan bahasa Osing.
Gloss
Jawa
Osing
Ada
/a/, /n/, /a/
/o,, /n/, /o/, /k/
Akar
/o/, /y/, /o/, /t/
/o/, /d/, /o/, /d/
Amuk
/a/, /m/, /u/, /k/
/i/, /m/, /u/, /k/
Bambu
/d/, /e/, /l/, /i/, /ŋ/
/j/, /a/, /j/, /a/, /ŋ/
Cari
/g/, /o/, /l/, /e/, /k/
/g/, /o/, /l/, /e/, /t/
Habis
/e/, /n/, /t/, /e/, /k/
/e/, /n/, /t/, /e/, /ŋ/
hitam
/i/, /r/, /e/, /ŋ/
/c/, /e/, /m/, /e/, /ŋ/
Kakak
/m/, /b/, /a/, /k/
/m/, /b/, /o/, /k/
Masih
/i/, /s/, /i/, /h/
/m/, /a/, /g/, /i/, /h/
Meja
/m/, /e/, /j/, /a/
/m/, /i/, /j/, /o/


3.      PENUTUP
3.1  Kesimpulan
            Aspek bahasa yang tepat dijadikan objek perbandingan adalah bentuk dan makna. Kesamaan-kesamaan bentuk dan makna itu akan lebih meyakinkan, karena bantuk-bentuk tersebut memperlihatkan kesamaan semantik. Kesamaan bentuk dan makna tersebut sebagai pantulan dari sejarah warisan yang sama. Bahasa-bahasa kerabat yang berasal dari bahasa proto yang sama selalu akan memperlihatkan kesamaan sistem bunyi (fonetik) dan susunan bunyi (fonologis).
            Bahasa Jawa dan bahasa Osing memiliki kemiripan pada beberapa kosa kata. Kata ada dalam bahasa Jawa adalah ana sedangkan dalam bahasa Osing adalah onok. Hal tersebut menujukkan adanya kemiripan dari kedua bahasa tersebut. Untuk menentukan korespondensi bunyi antara kedua bahasa tersebut perlu dilakukan beberapa tahapan. Tahap awal untuk menganalisis adanya korespondensi bunyi antara kedua bahasa tersebut adalah dengan cara mengumpulkan kosakata dari kedua bahasa tersebut yang memilki kemiripan baik makna maupun bentuk. Tahap selanjutnya adalah membandingkan pasangan-pasangan kata yang tercatat apakah pasangan-pasangan kata tersebut mengandung kesamaan bentuk (fonologis) dan makna atau tidak.
            Meneliti tentang korespondensi bunyi tidak hanya terhenti pada korespondensinya saja. Perlu pengujian lebih lanjut dengan cara menguji pembentukan korespondensi fonemis. Pembentukan korespondensi fonemis dapat dilakukan dengan tiga prosedur, yaitu rekurensi fonemis, kookurensi, dan analogi. Berdasarkan rekurensi fonemis ditemukan bahwa perangkat bunyi yang dibandingakan muncul pada perangkat buyi yang lain, seperti /ŋ – ŋ/ pada pasangan kata ireng dan cemeng yang ditemukan kembali pada pasangan kata deling dan jajang. Berdasarkan kookurensi ditemukan bahwa fonem /a/ pada kata ana berubah menjadi fonem /o/ pada kata onok serta dalam kosakata bahasa Osing mendapat penambahan fonem /k/ pada akhir kata. Berdasarkan analogi ditemukan fonem /a/ dalam bahasa Jawa bisa berubah menjadi fonem /o/ dalam bahasa Osing.

4.      DAFTAR PUSTAKA
Keraf, Gorys. 1984. Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: PT Gramedia
Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik (edisi keempat). Jakarta: PT Gramedia
Jeffers, Robert J dan Lehiste. 1979. Principles and Methods for Historical Linguistics. Diterjemahkan oleh Abd. Syukur Ibrahim dan Machrus Syamsudin. Surabaya: Usaha Nasional

Tidak ada komentar:

Posting Komentar