KORESPONDENSI
BUNYI BAHASA JAWA
DAN BAHASA OSING
Riska Astasari/201110080311127
Aspek bahasa yang tepat dijadikan
objek perbandingan adalah bentuk dan makna. Kesamaan-kesamaan bentuk dan makna
itu akan lebih meyakinkan, karena bantuk-bentuk tersebut memperlihatkan
kesamaan semantik. Bahasa Jawa dan bahasa Osing memiliki kemiripan pada
beberapa kosa kata. Kata ada dalam
bahasa Jawa adalah ana sedangkan
dalam bahasa Osing adalah onok. Meneliti
tentang korespondensi bunyi tidak hanya terhenti pada korespondensinya saja.
Perlu pengujian lebih lanjut dengan cara menguji pembentukan korespondensi
fonemis. Pembentukan korespondensi fonemis dapat dilakukan dengan tiga
prosedur, yaitu rekurensi fonemis, kookurensi, dan analogi.
Kata kunci : Korespondensi Bunyi, Bahasa Jawa,
Bahasa Osing
1. PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Bahasa
berperan penting dalam kehidupan manusia. Dalam berbagai bidang kehidupan,
manusia tak lepas dari bahasa. Simbol-simbol bunyi dalam bahasa menjadikan
kesepahaman antarmasyarakat bahasa. Simbol-simbol bunyi bahasa bersifat
arbitrer namun menjadi konvensi antar masyarakat. Sebagaimana
lazimnya sebuah produk budaya, bahasa juga mengalami perubahan dan perkembangan
dari masa ke masa seiring perkembangan masyarakat penuturnya. Bahasa
mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Salah satu cabang ilmu bahasa yang
menyelidiki perkembangan bahasa adalah linguistik komparatif. Kridalaksana
(2008: 145) mengatakan bahwa linguistik historis komparatif adalah bidang
linguistik yang menyelidiki perkembangan bahasa dari satu masa ke masa yang
lain, serta menyelidiki perbandingan satu bahasa dengan bahasa lain. Prosedur
pengkajian metode komparatif yaitu mengkaji bunyi-bunyi di suatu tempat
tertentu di satu daerah tentang satu morfem (Jeffers dan Lehiste, 1979: 31)
Bahasa dianggap berkerabat dengan kelompok bahasa tertentu apabila secara
relatif memperlihatkan kesamaan yang besar bila dibandingkan kelompok-kelompok
lainnya. Perubahan fonemis dalam sejarah bahasa-bahasa tertentu memperlihatkan
pula sifat yang teratur. Semakin dalam kita menelusuri sejarah bahasa-bahasa
kerabat, maka akan semakin banyak didapat kesamaan antar pokok-pokok bahasa
yang dibandingkan.
Perbandingan
bahasa dapat dilkukan melalui beberapa metode. Salah satunya adalah menggunakan
korespondensi bunyi. Korespondensi bunyi adalah pernyataan di dalam linguistik
historis komparatif yang menjelaskan perubahan-perubahan teratur dalam sistem
bunyi suatu bahasa dari satu masa ke masa lain dalam perkembangan sejarahnya,
atau yang menjelaskan rangkaian kesepadanan antara unsur-unsur dalam bahasa
yang berbeda-beda (Kridalaksana, 2008: 87).
Indonesia
merupakan negara yang kaya akan budaya. Salah satunya adalah bahasa. Jumlah
bahasa di Indonesia sangat banyak. Tiap daerah memiliki bahasa tersendiri.
Salah satunya di daerah Banyuwangi. Banyuwangi merupakan salah satu kabupaten
di Jawa Timur. Di Banyuwangi terdapat suku Osing, yaitu suku asli Banyuwangi. Suku
tersebut memiliki bahasa tersendiri yaitu bahasa Osing. Walaupun sebagian besar
masyarakat Banyuwangi menggunakan bahasa Jawa dalam berkomunikasi, namun bahasa
Osing juga menjadi bahasa yang digunakan oleh sebagian masyarakat Banyuwangi.
Antara bahasa Osing dan bahasa Jawa terdapat beberapa kesamaan kosa kata.
Kesamaan tersebut antara lain pada bentuk dan makna, fonem dan morfem serta
kelas kata.
Berdasarkan
uraian di atas, penulis tertarik untuk meneliti tentang bahasa Jawa dan bahasa Osing
berdasarkan hukum bunyi. Penelitian ini diharapakan dapat memberikan pemahaman
tentang korepondensi bunyi antara bahasa Jawa dan bahasa Osing.
1.2
Rumusan
Masalah
Rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
a. Bagaimana
penerapan korespondensi bunyi antara bahasa Jawa dan Bahasa Osing?
b. Bagaimana
perubahan fonem pada bahasa Jawa dan bahasa Osing?
c. Bagaimana
pembentukan korespondensi fonemis pada bahasa Jawa dan bahasa Osing?
1.3
Tujuan
Tujuan
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
a. Mengetahui
dan memahami penerapan korespondensi bunyi antara bahasa Jawa dan bahasa Osing.
b. Mengetahui
dan memahami tentang perubahan fonem antara bahasa Jawa dan bahasa Osing.
c. Mengetahui
dan memahami tentang korespondensi fonemis antara bahasa Jawa dan bahasa Osing.
1.4
Manfaat
Adapun
manfaat dalam penelitian ini sebagai berikut.
a. Memperoleh
pengetahuan tentan korespondensi bunyi pada bahasa Jawa dan bahasa Osing.
b. Melestarikan
kebudayaan khususnya bahasa Jawa dan bahasa Osing.
2. PEMBAHASAN
2.1
Penerapan
Korespondensi Bunyi Bahasa Jawa dan Bahasa Osing
Dalam artikel ini akan dibahas
mengenai korespondensi bunyi antara bahasa Jawa dan bahasa Osing. Tahap awal
untuk menganalisis adanya korespondensi bunyi antara kedua bahasa tersebut dengan
cara mengumpulkan kosakata dari kedua bahasa tersebut yang memilki kemiripan
baik makna maupun bentuk. Tahap selanjutnya adalah membandingkan
pasangan-pasangan kata yang tercatat apakah pasangan-pasangan kata tersebut
mengandung kesamaan bentuk (fonologis) dan makna atau tidak. Dengan demikian
dapat diketahui antara kedua bahasa tersebut memiliki kekerabatan atau tidak.
2.2
Korespondensi
Bunyi Bahasa Jawa dan Bahasa Osing
Bahasa Jawa dan Bahasa Osing memilki
kemiripan pada beberapa kosakatanya. Beberapa di antara kosakata tersebut
memiliki kesamaan makna dan perbedaan bunyi (bentuk). Berikut beberapa kosa
kata bahasa Jawa dan Osing yang digunakan sebagai perbandingan bunyi.
|
Gloss
|
Jawa
|
Osing
|
|
ada
|
ana
|
onok
|
|
akar
|
oyot
|
odod
|
|
amuk
|
amuk
|
imuk
|
|
bambu
|
dəling
|
jajang
|
|
cari
|
golek
|
golet
|
|
habis
|
əntek
|
ənteng
|
|
hitam
|
irəŋ
|
cəməŋ
|
|
kakak
|
mbak
|
mbok
|
|
masih
|
isih
|
magih
|
|
meja
|
meja
|
mijo
|
Berdasarkan data tersebut dapat
ditarik beberapa korespondensi fonemis sebagai berikut /a – o/ yaitu perangkat
vokal awal yang terdapat pada gloss pertama. Pada gloss kedua dapat ditarik
korespondensi dari vokal pertama /o – o/. Korespondensi fonemis gloss ketiga /a
– i/, yaitu perangkat vokal awal. Korespondensi fonemis gloss keempat adalah /d
– j/, yaitu perangkat konsonan awal. Korespondensi fonemis gloss kelima adalah
/g – g/. Korespondensi fonemis gloss keenam adalah /e – e/. Selain itu,
terdapat perangkat korespondensi yang lain yaitu /i – c/ pada gloss ketujuh. Perangkat
korespondensi fonemis gloss kedelapan adalah /m – m/. Dari data-data tersebut
diperoleh perangkat korespondensi berikut.
/a -o/ /o - o/ /a -i/
/n -n/ /y - d/ /m -m/
/a -o/ /o - o/ /u -u/
/Ɵ -k/ /t - d/ /k -k/
/d -j/ /g - g/ /e - e/
/e -a/ /o - o/ /n - n/
/l -j/ /l - l/ /t - t/
/i -a/ /e - e/ /e - e/
/ŋ -ŋ/ /k - t/ /k - ŋ/
2.3
Pembentukan
Korespondensi Fonemis Bahasa Jawa dan Bahasa Osing
Setelah mencatat korespondensi
bunyi, maka perlu dilakukan pengujian dengan tujuan agar perangkat
korespondensi itu mendapat status yang kuat. Berikut langkah pengujian yang
dilakukan
a. Rekurensi Fonemis
Prosedur
untuk menemukan perangkat bunyi yang muncul secara berulang-ulang dalam
sejumlah pasang kata yang lain disebut rekurensi fonemis (Keraf, 1984: 52). Berikut
rekurensi fonemis antara bahasa Jawa dan Osing.
|
Gloss
|
Jawa
|
Osing
|
|
ada
|
ana
|
onok
|
|
akar
|
oyot
|
odod
|
|
amuk
|
amuk
|
imuk
|
|
bambu
|
dəliŋ
|
jajaŋ
|
|
cari
|
golek
|
golet
|
|
habis
|
entek
|
enteŋ
|
|
hitam
|
irəŋ
|
cəməŋ
|
|
kakak
|
mbak
|
mbok
|
|
masih
|
isih
|
magih
|
|
meja
|
meja
|
mijo
|
Kata
hitam, dalam bahasa Jawa; ireng, sedangkan dalam bahasa Osing; cemeng. Dalam pasangan ini terdapat indikasi
adanya perangkat korespondensi fonemis: /Ɵ – c/, /i – e/, /r – m/, /e – e/, /ŋ–ŋ/.
Berdasarkan data, kita dapat menemukan kembali perangkat korespondensi /e – e/
dan /ŋ – ŋ/ dalam kata-kata berikut.
|
Gloss
|
Jawa
|
Osing
|
|
bambu
|
dəliŋ
|
jajaŋ
|
|
habis
|
əntek
|
ənteŋ
|
Kata
bambu, dalam bahasa Jawa: deling, Osing: jajang, berkorespondesi fonemis dengan kata ireng (dalam bahasa Jawa) dan cemeng
(dalam bahasa Osing). Korespondensi fonemis pasangan ireng dan cemeng dapat
ditemukan kembali pada pasangan kata deling
dan jajang seperti berikut, /d – j/,
/e – a/, /l – j/, /i – a/, /ŋ – ŋ/. Perangkat korespondensi /ŋ – ŋ/ yang
dimiliki pasangan kata ireng dan cemeng inilah yang ditemukan kembali
pada pasangan kata deling dan jajang.
Perangkat
korespondensi /e – e/ pada pasangan kata ireng
dan cemeng dapat ditemukan kembali
pada pasangan kata entek dan enteng, seperti berikut /e – e/, /n –
n/, /t – t/, /e – e/, /k – ŋ/. Perangkat korespondensi yang dimiliki oleh
pasangan ireng dan cemeng ditemukan kembali pada perangkat
vokal awal pasangan kata entek dan enteng yaitu /e – e/.
b. Kookurensi
Kookurensi
adalah gejala-gejala tambahan yang terjadi sedemikian rupa pada kata-kata
kerabat yang mirip bentuk dan maknanya, sehingga dapat mengaburkan baik
kemiripan bentuk maknanya maupun korespondensi fonemisnya dengan kata-kata lain
dalam bahasa kerabat lainnya (Keraf, 1984:55). Gloss pertama adalah ada, dalam bahasa Jawa: ana sedangkan dalam bahasa Osing: onok. Dalam kasus tersebut fonem /a/
pada kata ana berubah menjadi fonem
/o/ pada kata onok. Selain itu, dalam
kosakata bahasa Osing mendapat penambahan fonem /k/ pada akhir kata. Selain
itu, pada gloss kakak (perempuan), dalam bahasa Jawa adalah mbak, sedangkan dalam bahasa Osing
adalah mbok. Fonem /a/ pada kata mbak juga mengalami perubahan menjadi
fonem /o/ pada kata mbok. Fonem /k/
pada kata golek berubah menjadi /t/
pada kata golet. Perubahan fonem lain
juga terjadi pada gloss keenam, fonem /k/ pada kata entek berubah menjadi /ŋ/ pada kata enteng.
c. Analogi
Berdasarkan
data di atas terdapat beberapa perubahan fonem maupun penambahan fonem. Fonem
/a/ dalam bahasa Jawa bisa berubah menjadi fonem /o/ dalam bahasa Osing. Hal
tersebut mimicu terbentuknya korespondensi /a – o/. Selain itu pada pasangan
kata golek (bahasa Jawa) dan golet (bahasa Osing), fonem /k/ berubah
menjadi fonem /t/. Pasangan kata entek
(bahasa Jawa) dan enteng (bahasa
Osing), fonem /k/ berubah menjadi fonem /ŋ/.
Berikut adalah temuan korespondensi
fonemins antara bahasa Jawa dan bahasa Osing.
|
Gloss
|
Jawa
|
Osing
|
|
Ada
|
/a/,
/n/, /a/
|
/o,,
/n/, /o/, /k/
|
|
Akar
|
/o/,
/y/, /o/, /t/
|
/o/,
/d/, /o/, /d/
|
|
Amuk
|
/a/,
/m/, /u/, /k/
|
/i/,
/m/, /u/, /k/
|
|
Bambu
|
/d/,
/e/, /l/, /i/, /ŋ/
|
/j/,
/a/, /j/, /a/, /ŋ/
|
|
Cari
|
/g/,
/o/, /l/, /e/, /k/
|
/g/,
/o/, /l/, /e/, /t/
|
|
Habis
|
/e/,
/n/, /t/, /e/, /k/
|
/e/,
/n/, /t/, /e/, /ŋ/
|
|
hitam
|
/i/,
/r/, /e/, /ŋ/
|
/c/,
/e/, /m/, /e/, /ŋ/
|
|
Kakak
|
/m/,
/b/, /a/, /k/
|
/m/,
/b/, /o/, /k/
|
|
Masih
|
/i/,
/s/, /i/, /h/
|
/m/,
/a/, /g/, /i/, /h/
|
|
Meja
|
/m/,
/e/, /j/, /a/
|
/m/,
/i/, /j/, /o/
|
3. PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Aspek bahasa yang tepat dijadikan
objek perbandingan adalah bentuk dan makna. Kesamaan-kesamaan bentuk dan makna
itu akan lebih meyakinkan, karena bantuk-bentuk tersebut memperlihatkan
kesamaan semantik. Kesamaan bentuk dan makna tersebut sebagai pantulan dari
sejarah warisan yang sama. Bahasa-bahasa kerabat yang berasal dari bahasa proto
yang sama selalu akan memperlihatkan kesamaan sistem bunyi (fonetik) dan susunan bunyi (fonologis).
Bahasa Jawa dan bahasa Osing
memiliki kemiripan pada beberapa kosa kata. Kata ada dalam bahasa Jawa adalah ana
sedangkan dalam bahasa Osing adalah onok.
Hal tersebut menujukkan adanya kemiripan dari kedua bahasa tersebut. Untuk
menentukan korespondensi bunyi antara kedua bahasa tersebut perlu dilakukan
beberapa tahapan. Tahap awal untuk menganalisis adanya korespondensi bunyi
antara kedua bahasa tersebut adalah dengan cara mengumpulkan kosakata dari
kedua bahasa tersebut yang memilki kemiripan baik makna maupun bentuk. Tahap
selanjutnya adalah membandingkan pasangan-pasangan kata yang tercatat apakah
pasangan-pasangan kata tersebut mengandung kesamaan bentuk (fonologis) dan
makna atau tidak.
Meneliti tentang korespondensi bunyi
tidak hanya terhenti pada korespondensinya saja. Perlu pengujian lebih lanjut
dengan cara menguji pembentukan korespondensi fonemis. Pembentukan
korespondensi fonemis dapat dilakukan dengan tiga prosedur, yaitu rekurensi
fonemis, kookurensi, dan analogi. Berdasarkan rekurensi fonemis ditemukan bahwa
perangkat bunyi yang dibandingakan muncul pada perangkat buyi yang lain,
seperti /ŋ
– ŋ/ pada pasangan kata ireng dan cemeng yang ditemukan kembali pada
pasangan kata deling dan jajang. Berdasarkan kookurensi ditemukan
bahwa fonem /a/ pada kata ana berubah
menjadi fonem /o/ pada kata onok
serta dalam kosakata bahasa Osing mendapat penambahan fonem /k/ pada akhir
kata. Berdasarkan analogi ditemukan fonem /a/ dalam bahasa Jawa bisa berubah
menjadi fonem /o/ dalam bahasa Osing.
4. DAFTAR PUSTAKA
Keraf, Gorys. 1984. Linguistik Bandingan Historis.
Jakarta: PT Gramedia
Kridalaksana,
Harimurti. 2008. Kamus Linguistik
(edisi keempat). Jakarta: PT Gramedia
Jeffers,
Robert J dan Lehiste. 1979. Principles
and Methods for Historical Linguistics. Diterjemahkan oleh Abd. Syukur
Ibrahim dan Machrus Syamsudin. Surabaya: Usaha Nasional
Tidak ada komentar:
Posting Komentar